bebek rewel

Men are from Mars, Women are from Venus, Duck is from Earth

Tidak Semua Huruf Diciptakan Sederajat

Perhatian: Jika anda adalah orang baik-baik, bermoral tinggi dan tidak biasa dengan kata-kata yang berbintang-bintang => *****, mungkin postingan ini ada baiknya anda lewatkan… 

Atau lebih tepatnya: “Tidak semua huruf diperlakukan (baca: digunakan) secara sederajat dalam Bahasa Indonesia”.

Tentu bebek tidak menuduh bahwa Bahasa Indonesia “rasis” terhadap huruf-huruf tertentu. Tapi rasanya hampir semua kata yang lazim digunakan dalam bahasa Indonesia sehari-hari melibatkan huruf “a” dengan frekuensi penampakan yang lebih banyak daripada huruf lainnya. (Secara ngawuriah, bebek tidak menghitung huruf-huruf yang populer untuk membentuk imbuhan seperti “m”, “e”, “n” dan lainnya)

Dan jika ingin membuat perbandingan ekstrim (Cheeezzz… Bebek liat di  di Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi kedua tahun 1993, kata ekstrim itu seharusnya ditulis sebagai: “ekstrem”!!), bukanlah hal yang “tidak terbuktikan” jika huruf “a” menempati posisi yang lebih penting daripada huruf “q” misalnya.

Kata yang berawalan dengan huruf “a” mendapatkan jatah sebanyak 70 halaman sementara yang berawalan huruf “q” harus cukup puas dengan jatah 1 halaman saja (Itupun anggotanya cuma 9 “kata” dengan 8 kata yang merupakan serapan dari Bahasa Arab dan 1 huruf “q” dengan penjelasan: huruf ketujuh belas abjad Indonesia).

Walau begitu, “a” bukanlah huruf yang menghabiskan halaman terbanyak. di KBBI edisi kedua ini, kayanya huruf “s” mendapatkan posisi kehormatan dengan jumlah halaman yang didedikasikan sebanyak 129 halaman.

Selain urusan frekuensi penggunaan huruf dalam Bahasa Indonesia (tidak harus selalu digunakan secara baik dan benar, bisa juga sebagai Bahasa Indonesia prokem yang tidak baik dan tidak benar), secara ngawuriah, bebek juga percaya jika tidak semua huruf itu “netral”. Ada huruf yang bisa membentuk persepsi, menegaskan sebuah kata yang dibentuknya dan memberikan citra feminin ataupun maskulin.

Dalam salah satu emailnya, salah satu temen internet bebek melemparkan sebuah pertanyaan tidak penting: “Btw, ada yg tau beda gemuk dgn gendut? Secara tidak sadar, org ga senang dibilang gendut, ketimbang gemuk. Knp?”

Dan bebekpun membalas pertanyaan tersebut dengan reply yang tidak kalah tidak pentingnya (catatan: bebek sudah permak-permak supaya terasa lebih berperikebebekkan):

Menurut bebek karena ada huruf “d” di gendut. Bunyi huruf “d” tersebut seakan-akan memberikan penekanan: genDuuuuttt… Jadi kesannya lebih besar dan berat daripada gemuk. (Mau membuat efek yang lebih besar dan berat daripada gendut? Gunakanlah kata “gendud” (keterangan lebih lanjut tersedia di bawah))

Selain kedua kata tersebut, ada juga kata endut. Ini kesannya lebih imut kan? Argumen bebek, hal ini dikarenakan hilangnya huruf “g” yang memberikan penekanan lebih pada awal kata.

Dalam bahasa informal, huruf “k” bisa digantikan huruf “g” dengan tujuan memberikan penekanan lebih pada arti kata: goblog (bisa diartikan sebagai goblok banget) dan budeg (lebih daripada budek). Bisa juga untuk menunjukkan kecentilan: sayank dan gantenk. (Contoh penggunaan dalam kalimat: “Sayank… Menurut dikau, apakah daku gantenk?”)

Selain itu, bebek pernah mendiskusikan di antara temen2 (yang sama gak jelasnya kaya bebek). Entah apakah dikau-dikau semua setuju apa tidak: Kenapa k*nt*l dan t*t*t walau mengacu kepada barang yang sama, tetapi kesannya yang pertama lebih besar daripada yang kedua? Apakah karena kecenderungan pemakaian kata? atau karena huruf “o” itu terdengar lebih maskulin daripada huruf “i” ??

Bisa diperhatikan juga dari jenis ketawa. Kalo ketawanya diketik sebagai “HOHOHO”, kesannya lebih maskulin (selain karena udah jadi trademark sinterklas). Kalo ketawanya “hihihi”, yang kebayang langsung seorang wanita ketawa centil sambil mulut ditutupin kipas. Dalam hal ini, ketawa yang netral adalah “hahaha”.

Selain itu huruf “u” juga sepertinya lebih halus daripada huruf “o”:

– Bodoh terasa lebih kasar daripada buduh

– Dodol terasa lebih kasar daripada dudul (ini dodol untuk kata-katain orang maksudnya)

– Bloon terasa lebih kasar daripada bluun

– Goblok lebih kasar daripada gubluk (Eh, ada gitu orang yang maki orang laen dengan kata “gubluk”?)

– Colon lebih… gak jadi deng. Colon itu artinya usus besar, sementara culun… (masih perlu kita diskusikan lebih jauh)

Selain itu tawa “huhuhu” terasa seperti nangis atau tawa licik (tergantung intonasi), sementara “hohoho” seperti yang dibahas di atas adalah terdengar lebih maskulin.

Sekarang mari kita bahas beda antara huruf “t” dan “d”.

Menurut bebek, huruf “d” itu memberi penekanan lebih pada arti. Contoh:

– Ng*nt*T dan ng*nt*D bila diucapkan dengan “penuh semangaD” serasa lebih kasar yang kedua karena penekanan yang lebih dalam sehingga terasa seperti penekanan lebih pada artinya

– B*ngs*T dan b*ngs*D (sama seperti alasan di atas)

– Sesat dan sesad terasa lebih sesat “sesaD” daripada “sesat” (Huruf “s” bisa diganti dengan “z” untuk memberikan penekanan yang lebih lagi. Dengan kata lain, derajat kesesatan bisa diurut sebagai berikut (dari kurang sesat sampai pada paling sesat): sesat -> sesad -> zezad (Er… rada aneh seh, tapi seenggaknya pola yang sama kadang digunakan untuk kata manis: manis -> maniz, dan kata panas: panas -> panaz ))

– “Tuinggggg…” dan “duingggggg…”. Walau keduanya serasa menjadi sound effect bagi sesuatu yang membal (misalnya: Jika perut anda buncit, maka ketika perut anda ditekan-ditekan, ibaratnya akan keluar suara “tuing-tuing”), yang pasti bunyi DUINGGG!! kesannya lebih membal dan berat daripada TUINGGG!!! (Jadi kalau perut anda sudah sssaaangaaDDD bunciD, yang jadi sound effectnya bukan lagi “tuing-tuing…”, tapi “duing-duing…”)

Huruf “p”, bisa digantikan dengan saudaranya yang agak mirip-mirip, si huruf “b”. Contoh: mantab.

Dan untuk mengakhiri postingan ini, marilah kita mempraktekkan teknik penukaran huruf seperti yang sudah dijabarkan di atas secara sekaligus:

“GeDuBraG!!” (sound effect orang jatuh) serasa lebih berbau “jatuh” daripada “KeTuPrak!!” (Yang ini bakal ditanyain lebih jauh: maksudnya ketupat? atau ketoprak?)

Sekian ocehan zezaD bebeg hari ini…

11 Comments

  1. Comment by yuku on December 11, 2007 6:14 am

    Akhirnya!!! Muncul juga artikel bebekrewel setelah sekian lama.
    Dan lebih hebatnya… inilah artikel yang *bermutu tinggi* , muncul juga setelah berbulan2 (bukan yang lain tidak bermutu sih).
    Wah punya KBBI ya? Jadi pengen juga, kayanya cukup menarik.
    Mengenai k->g, s->z, p->b, t->d, itu jadi mirip bahasa jepang dimana yang di sisi kanan panah itu sama hurufnya dengan di sisi kiri panah, cuma bedanya ada tanda mirip kutipnya.
    Kalo di teori fonetik, kalo ga salah itu namanya voiced, liat di http://en.wikipedia.org/wiki/Voice_(phonetics)
    Hidub bebeg!
    ————————————————————————–
    Tunggu aja KBBI edisi terbaru yang bakal nongol 2008 (ada 2 versi katanya, salah satu versinya akan memasukkan atau menerbitkan secara terpisah mengenai kosa-kata bahasa gaul)

    (bebek)

  2. Comment by d on December 11, 2007 9:05 pm

    si indcoup kok blognya tewas?
    ————————————–
    Dia ada sedikit urusan T_____T
    Tahun depan katanya baru mulai ngeblog lagi (start dari 0), entah apakah alamatnya akan sama apa kagak.

    (bebek)

  3. Comment by rd Limosin on December 15, 2007 8:24 pm

    iya, emang bener ng*nt*T (ngunteT) lebih halus dibanding dgn ng*nt*D (ngunteD)

    *pura² gak tau*

  4. Comment by alien on December 17, 2007 7:29 am

    yiihiiiiii haha lucu bekh bagian stengah akhir =D~~ eh lo itungin tuh halaman kamus?!
    eh ttg yg i sama o, gua kepikiran antara shit sama shoot..shoot menurut gua lebi kalem sih daripada shit..TA gua bisa ngomong shoot di depan ank2, gua perna ngoomng shoot dan didengar sama prof gua yg tiba2 muncul di samping gua dan dia malah khawatir n tanya “apa yg terjadiii?!” *gua uda kaget+ngeri dia denger, tapi dia malah reaksinya beda ha2* umm tapi masi di bbrp konteks tetep enakan ngomong shit dibanding shoot..

    yasudah deh ntar aye dibilank mengajar yg tidak2 hehehuehe

    adu mati bek gua mo final dua biji hari slasa apalannya segununggg..dan terutama yg palink gua benci ANTROP!! masa rata2 gua skarang 50% KYAAA KiAAmatI sayaaa

  5. Comment by SatriaK on March 2, 2008 5:28 am

    Dalam teori informasi, kalau probabilitas semua hurup sama, nggak akan ada yang namanya software kompresi semacam ZIP, RAR, dsb.

    ‘Ketidakadilan’ itu justru menyebabkan kita bisa melakukan proses ZIP. 😉
    ——————————————————————-

    Teori informasi itu maksudnya yang entropi-entropian itu?
    bukannya justru makin tidak adil itu makin rendah ya nilai informasinya?

    Misal ada 4 bit data, kalau semuanya adil kan berarti jumlah 0 dan 1 nya sama.
    Jadi info yang bisa diwakilkan: 0011 0101 0110 1001 1010 1100

    Sementara kalau tidak adil, ambil ekstrimnya semuanya 1 atau semuanya 0, berarti kan cuma bisa 0000 ATAU 1111

    Dengan kata lain… harusnya makin adil, bukannya makin bisa banyak data yang diwakilkan ya?

    (bebek)

  6. Comment by SatriaK on March 4, 2008 5:32 am

    Ya benar. Kalau misalnya ada 32 kemungkinan huruf dengan probabilitas seragam, maka nilai entropinya 5 bit dan masing-masing huruf mau tidak mau harus dikodekan dengan 5 bit.

    Tapi kalau probabilitasnya tidak seragam, pasti entropinya kurang dari 5 bit dan algoritma kompresi memanfaatkan probabilitas yang berbeda-beda di tiap huruf itu untuk mendapatkan rasio kompresi terbaik. Dengan metode Huffman misalnya, huruf yang memiliki probabilitas tinggi akan dikodekan dengan bit yang lebih sedikit dibandingkan huruf yang memiliki probabilitas rendah. Mungkin ada huruf yang dikodekan dengan 6 bit, mungkin juga ada yang cukup dikodekan dengan 3 bit saja.

    Jadi ketidakadilan (ketidakseragaman probabilitas) penggunaan huruf itu membuat kita dapat melakukan penghematan kebutuhan memori dan jalur komunikasi data. Saya kira ini adalah satu hal yang patut disyukuri.

    (maaf kalau komennya terlalu serius, he he. 🙂

    http://en.wikipedia.org/wiki/Huffman_coding

    Ini yang seru dari internet:

    The Conversion to Euro English…

    With the implementation of the Eurodollar underway in Europe these last few years, the European Union is trying to find new ways to standardize practices in Europe.

    The European Commission has just announced an agreement whereby English will be the official language of the EU rather than German which was the other possibility.

    Conversion to European English
    As part of the negotiations, Her Majesty’s Government conceded that English spelling had some room for improvement and has accepted a five year phase-in plan that would be known as “Euro-English”.

    In the first year, “s” will replace the soft “c”. Sertainly, this will make the sivil servants jump with joy. The hard “c” will be dropped in favour of the “k”. This should klear up konfusion and keyboards kan have 1 less letter.

    Conversion to European English
    There will be growing publik enthusiasm in the sekond year, when the troublesome “ph” will be replaced with “f”. This will make words like “fotograf” 20% shorter.

    In the third year, publik akseptanse of the new spelling kan be ekspekted to reach the stage where more komplikated changes are possible. Governments will enkorage the removal of double letters, which have always ben a deterent to akurate speling. Also, al wil agre that the horible mes of the silent “e”s in the language is disgraseful, and they should go away.

    Conversion to European English
    By the fourth year, peopl wil be reseptiv to steps such as replasing “th” with “z” and “w” with “v”. During ze fifz year, ze unesesary “o” kan be dropd from vords kontaining “ou” and similar changes vud of kors be aplid to ozer kombinations of leters.

    After zis fifz yer, ve vil hav a reli sensibl riten styl. Zer vil be no mor trubl or difikultis and evrivun vil find it ezi to understand ech ozer. Ze drem vil finali kum tru! And zen world!
    ——————————————–

    Oh iya! Kalo pake Huffman encoding, emang kayanya bener ^__^

    (bebek)

  7. Comment by Christin on March 4, 2008 1:40 pm

    Huhauhaa vid…g ampe ngakak” gini bacanya.

  8. Comment by eyangputri on October 29, 2008 7:24 pm

    Bagus…!
    Akhirnya bebek bisa ngeluarin apa yang selama ini hanya ada di otak gue.

    Tapi… gue masih ragu, bek!

    Mungkinkah ulasan kamu di atas karena terpengaruh gaya bahasa jawa???

    Gue pernah mau nulis hal yg sejenis tapi gak jadi karena merasa orang laen (bukan jawa) gak bakalan ngerti bener akan maksudmu…!

    Ngomong2 ada cara yang beda untuk menghaluskan/menyopankan (membuat lebih sopan) penyebutan K*nth*l.
    Alih-alih menggunakan t*t*t, gue lebih suka dengan menggunakan istilah Kinthil.
    Memang barangnya menjadi lebih kecil tetapi masih mengacu ke barangnya lelaki, bukan milik anak kecil.

  9. Comment by Ari KatiK on January 25, 2009 4:27 pm

    Sejujurnya…
    Ini benar-benar hal (atau bisa dibilang “nonsense” atau “omong kosong”) yang tidak berguna untuk dibaca umat manusia…
    TAPI aku baca, berarti aku bukan manusia atau aku ini manusia tak berguna ya…? >.<

  10. Comment by RuTh on September 24, 2009 2:39 pm

    bagozzzh…

    btw, ni pndapat
    atao
    mnurut kmus bsar bhs. Indonesia sbetulnya atao
    cm pmikiran khayalan dcmpur pndpt kmus bhs.Indonesia….. ?

    jd bgung :<

  11. Comment by rizk on March 4, 2011 11:26 pm

    simple, lucu,
    teoritis dan linguistis sekali.,

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a comment