bebek rewel

Men are from Mars, Women are from Venus, Duck is from Earth

Mereka yang Diramalkan…

Perjalanan sejarah sering diwarnai dengan datang dan perginya tokoh-tokoh besar (dan juga kecil). Banyak di antara tokoh tersebut seakan diramalkan dan ditakdirkan bahwa suatu saat mereka akan menjadi seseorang yang mempengaruhi jalannya sejarah. 

Wu Zetian, satu-satunya kaisar wanita sepanjang sejarah kekaisaran Tiongkok kuno, sewaktu masih kecil diramalkan oleh seorang terpelajar bahwa ia akan menjadi kaisar karena ciri-ciri wajahnya.

Tenzin Gyatso, Dalai Lama yang sekarang, kelahirannya dikatakan dihadiri oleh burung gagak, suatu pertanda yang juga terjadi pada kelahiran beberapa Dalai Lama sebelumnya.

Nostradamus, peramal yang terkenal itu, dikisahkan segera berlutut di hadapan seorang rahib muda bernama Felice Paretti dan memanggilnya sebagai “His Holiness”. Di kemudian hari rahib muda tersebut menjadi Paus Sixtus V.

Lain lagi dengan Vespasian, seorang Jendral Romawi. Ketika memadamkan pemberontakan orang Yahudi, salah satu tahanannya yang bernama Josephus (kemudian dikenal sebagai Titus Flavius Josephus, sejarawan Yahudi dari abad pertama) meramalkan bahwa suatu saat ia akan menjadi Kaisar Roma. Jendral Vespasian pun naik tahta menjadi kaisar di tahun 69.

Kalau orang-orang yang di atas diramalkan oleh seorang terpelajar, burung gagak, peramal dan sejahrawan, maka mungkin juga kalau presiden kita yang sekarang ini, 4 tahun yang lalu, juga diberi pertanda ramalan bahwa ia akan menjadi seseorang yang paling dicaci dan dikambing hitamkan oleh banyak orang Indonesia (baca: menjadi Presiden Indonesia).

Walau bebek akui, tanda ramalannya emang agak tidak mengenakkan…

Artikel dapat diakses di alamat:
http://kompas.com/kompas-cetak/0311/07/utama/675120.htm
————————————————————————————-

Menghina Menko Polkam, WN Jerman Ditangkap

Jakarta, Kompas – Robert Massmeyer (68), yang mengaku warga negara Jerman, ditangkap polisi yang mengawal perjalanan Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono, di halaman parkir Hotel Indonesia, Jakarta Pusat, Kamis (6/11) pukul 11.15.

Massmeyer disangka menghalang-halangi laju kendaraan Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) saat melintas di Jalan Jenderal Sudirman. Ia menghina dan atau melakukan pelecehan dengan mengacungkan jari tengahnya ketika mobilnya sejajar dengan mobil yang ditumpangi Yudhoyono.

Brigadir Agus Suparyanto, salah seorang polisi pembuka jalan laju kendaraan Menko Polkam saat itu, menuturkan, Massmeyer yang mengemudikan Toyota Starlet F 1152 AE menghalangi laju kendaraan Menko Polkam mulai dari depan Gedung BRI, di Jalan Sudirman arah Bundaran Hotel Indonesia (HI). Saat itu, kata Agus yang mengendarai motor patroli pengawalan, mobil Massmeyer melaju di tengah marka jalan jalur cepat. Ia pun dengan gerak tangan memberi aba-aba agar Massmeyer menepi ke kiri untuk memberi jalan kepada kendaraan dinas Menko Polkam.

“Dia bukannya memberi jalan malah menghina saya. Sambil melihat ke saya, dia menujuk-ujuk keningnya sendiri, seakan saya tidak punya otak karena menyuruh dia menepi,” kata Agus.

Massmeyer pun tetap ngotot, tidak mau menepi bahkan melajukan kendaraannya dengan berzig-zag di depan kendaraan rombongan Menko Polkam. Tentara pengawal yang ada di mobil patroli lalu memberi peringatan dengan membunyikan sirine satu-satu. Massmeyer malah meledek mereka dengan cara mengeluarkan tangan kanan, dan jari tengah diacungkan ke atas, setiap sirine berbunyi.

Yang membuat tentara pengawal Menko Polkam marah dan memerintahkan polisi segera menangkap Massmeyer adalah acungan jari telunjuk itu dilakukan Massmeyer lagi ketika mobil yang ditumpangi Menko Polkam sejajar dengan mobil Massmeyer. Itu terjadi sebelum Massmeyer membelokkan mobilnya, masuk ke halaman parkir Hotel Indonesia.

Seorang polisi yang saat itu bertugas di seputar Bundaran HI segera menghampiri mobil Massmeyer.

Polisi mengetuk-ngetuk kaca pintu mobil, memerintahkan Massmeyer keluar. Massmeyer menolak keluar, malah marah-marah dan dari kaca jendela berupaya menusuk polisi itu dengan ujung payungnya.

Polisi pun memaksa dia keluar dan berupaya menangkapnya. Massmeyer meronta-ronta dan berhasil lepas dari cengkeraman polisi. Ia lari menjauh dan dikejar polisi serta tiga anggota ketentraman dan ketertiban serta perlindungan masyarakat (tramtib dan linmas) yang tengah bertugas di Bundaran HI. Massmeyer akhirnya ditangkap Cahyani, anggota tramtib dan linmas, setelah ia jatuh karena kakinya tersandung besi yang menonjol di jalan.

“Ia masih berontak tidak mau ditangkap, sampai dia jatuh lagi dan saya ikut jatuh juga. Akhirnya tangannya bisa saya borgol. Polisi lalu memasukkan dia ke mobil patroli dan membawanya ke sini (kepolisian daerah/polda),” kata Cahyani.

Cahyani, dan dua temannya, A Abidin dan A Rizal, yang ikut ke Polda Metro Jaya menegaskan, luka lecet-lecet di kaki dan tangan serta benjol di pelipis kanan Massmeyer bukan karena mereka atau polisi pukuli. Luka itu karena Massmeyer jatuh sendiri. Begitu juga luka sobek di dahinya.

“Luka sobek di dahinya akibat kena ujung bangku di klinik polda. Polisi mau mengobati luka-luka lecetnya. Ia masih meronta-ronta tidak mau, sampai akhirnya ia jatuh menimpa kursi,” kata Abidin.

Di ruang tunggu Kantor Sentra Pelayanan Kepolisian (SPK) Polda Metro Jaya, Massmeyer tampaknya tidak menerima dan tidak mengerti mengapa ia berada di sana. Dalam bahasa Inggris dan Jerman, ia marah-marah. Polisi kesulitan meminta keterangannya sekalipun sekadar menanyakan nama lengkap dan alamatnya di Jakarta. Ia bahkan menanyakan nama petugas polisi dan orang-orang yang membawa dia ke SKP.

Ia hanya menyebut namanya Robert dan paspornya ada dalam tas, di mobilnya.

“Gedung apa ini. Mengapa saya dibawa ke sini. Mana mobil saya. Mengapa saya diperlakukan seperti kriminal,” katanya.

Ia bahkan sempat memperolok orang yang berada di SPK yang memperhatikan dia.

Massmeyer baru menyebut nama lengkap dan alamat tinggalnya di Bogor setelah wartawan menanyainya. Massmeyer mengatakan, ia tidak mengerti mengapa polisi menyuruh ia menepikan mobilnya.

“Di Jalan Sudirman itu batas kecepatan maksimal 60 km/jam. Saya mengemudikan kendaraan 40 km/jam. Mobil lainnya ada yang lari 50-70 km/jam. Mengapa saya yang disuruh menepi. Saya adalah pengemudi yang disiplin. Mereka yang tidak disiplin,” katanya ketika ditanya mengapa ia tidak mau menepikan kendaraannya seperti perintah polisi.

Menurut Massmeyer, kalau ia salah, polisi bisa mencatat nomor kendaraannya dan mengirim surat teguran ke rumahnya. Polisi, katanya, tidak berhak menangkap dia karena urusan lalu lintas.

Saat diingatkan bahwa dia ditangkap bukan karena masalah lalu lintas saja, tetapi karena menghalangi laju kendaraan dan menghina pejabat negara, Massmeyer mengatakan, dia tidak tahu siapa yang berada di mobil itu.

Mulut Massmeyer sampai ternganga ketika wartawan menjelaskan bahwa orang yang berada di dalam mobil yang diberi acungan jari telunjuknya adalah Menko Polkam RI. Lelaki ini, yang semula banyak bicara, menjadi agak kalem dan menurut ketika polisi membawanya untuk menjalani pemeriksaan di Satuan Reserse Umum.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Mathius Salempang mengatakan, anggotanya tetap akan memproses Massmeyer.

“Ya, kita lihat saja hasil pemeriksaannya nanti,” kata Salempang ketika ditanya apakah tak berlebihan menangkap dan menahan Massmeyer. (RTS)

3 Comments

  1. Comment by alien on November 12, 2007 11:03 am

    ahahaha yg wn jerman itu konyol amat ^^! btw bek, katanya yg di dufan ada 20an org mati naek maenannya dufan tuh bener ga sih y?! katanya britanya rada2 ditutup2in, ada yg bilank emank isu doank..gua jg denger2 org doank seh huehe

  2. Comment by ramadhani on February 19, 2008 2:30 pm

    itu link ke kompasnya 404 not found. emang ramalan nya apa sih? kasih tahu aja deh
    ————————————————————————

    Weleh…
    Kompas kayanya ganti ke kompas baru sekarang alamat artikelnya diubah formatnya kali ya?

    Ya artikelnya yang daku copy paste di bawahnya itu. =P

    Pak SBY dikasih “jari tengah” oleh si WN Jerman.

    Ramalannya: menjadi orang yang paling dicaci di Indonesia (baca: Presiden Indonesia).
    Sekarang toh presiden sering jadi kambing hitam toh =P

    (bebek)

  3. Comment by ramadhani on February 20, 2008 1:16 pm

    makasih makasih makasih. saya kelewatan berita ini rupanya.
    ————————————————

    Berita lama. ^__^
    Btw, perhatiin gak kalau ada “kesalahan” di artikelnya? 😀
    Pada awalnya disebut bahwa jari yang “dikeluarkan” adalah jari tengah, tapi di akhir disebut sebagai “jari telunjuk”.
    Hehe. Mungkin ada semacem setengah “sensor” kali ya.

    Kompas… oh kompas… T__T

    (bebek)

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a comment